SEJARAH DAN PROFIL PTPN I (PERSERO) REGIONAL 7 KEBUN TULUNGBUYUT - MEDIA PTPN I REGIONAL 7 KEBUN TULUNGBUYUT

Breaking

Subscribe Us

BANNER 728X90

20 Mei 2026

SEJARAH DAN PROFIL PTPN I (PERSERO) REGIONAL 7 KEBUN TULUNGBUYUT

 

Sejarah dan Profil

PTPN I ( Persero) Regional 7 Kebun Tulungbuyut

PT Perkebunan Nusantara I (Persero) melalui unit operasionalnya, Regional 7 Kebun Tulungbuyut, merupakan salah satu perkebunan karet terbesar di wilayah Lampung yang memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda hingga era transformasi BUMN perkebunan modern saat ini.

Latar Belakang Berdirinya

Kebun Tulungbuyut berada di Kampung Kalipapan, Kecamatan Negri Agung, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Kawasan ini sejak awal dikenal sebagai daerah potensial untuk pengembangan tanaman perkebunan, khususnya karet.

Perkebunan dan pabrik pengolahan karet Tulungbuyut pertama kali dibangun sekitar tahun 1930 oleh perusahaan perkebunan milik pemerintah kolonial Belanda. Pada masa itu, wilayah Lampung menjadi salah satu sentra pengembangan karet di Sumatra bagian selatan karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung budidaya tanaman karet. dengan luas kebun ± 5.786,5 hektare.

Pabrik pengolahan yang dibangun saat itu menggunakan sistem pengasapan lembaran karet (Ribbed Smoked Sheet/RSS) dan sebagian bangunannya masih dipertahankan hingga sekarang sebagai peninggalan sejarah industri perkebunan kolonial.

Masa Nasionalisasi Perusahaan Belanda

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan asing milik Belanda pada tahun 1957–1958. Seluruh aset perkebunan Belanda, termasuk Kebun Tulungbuyut, diambil alih oleh negara dan dikelola oleh perusahaan perkebunan negara.

Kebijakan nasionalisasi ini menjadi tonggak penting lahirnya perusahaan-perusahaan perkebunan milik negara yang kemudian berkembang menjadi kelompok PTP (Perusahaan Terbatas Perkebunan).

Pada periode berikutnya, pengelolaan perkebunan mengalami beberapa kali restrukturisasi organisasi:

  • dari PPN (Perusahaan Perkebunan Negara),
  • menjadi PNP (Perusahaan Negara Perkebunan),
  • kemudian berubah menjadi PT Perkebunan Persero.

Transformasi ini dilakukan pemerintah untuk meningkatkan efisiensi dan profesionalisme pengelolaan perkebunan negara.

Pembentukan PTPN VII

Pada tahun 1996, pemerintah melakukan konsolidasi besar-besaran terhadap BUMN perkebunan di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1996, beberapa perusahaan perkebunan negara di wilayah Sumatra bagian selatan digabung menjadi:

PT Perkebunan Nusantara VII

Perusahaan ini resmi berdiri melalui Akta Notaris Harun Kamil, S.H. Nomor 40 tanggal 11 Maret 1996.

PTPN VII merupakan hasil penggabungan:

  • PT Perkebunan X,
  • PT Perkebunan XXXI,
  • proyek pengembangan PT Perkebunan XI,
  • serta beberapa unit perkebunan lainnya di Lampung, Sumatera Selatan, dan Bengkulu.

Sejak saat itu, Kebun Tulungbuyut menjadi salah satu unit usaha utama PTPN VII di Provinsi Lampung.

Perubahan Menjadi PTPN I (Persero)  Regional 7

Dalam program transformasi Holding Perkebunan Nusantara yang dipimpin oleh PTPN III (Persero), dilakukan integrasi seluruh PTPN ke dalam sistem regional.

Efektif sejak 1 Desember 2023, PTPN VII resmi bergabung ke dalam struktur baru:

PT Perkebunan Nusantara I (Persero)  Regional 7

Regional 7 membawahi wilayah operasional:

  • Provinsi Lampung,
  • Sumatera Selatan,
  • Bengkulu.

Transformasi ini bertujuan:

  • meningkatkan efisiensi perusahaan,
  • memperkuat daya saing,
  • mempercepat modernisasi agribisnis,
  • serta memperbaiki tata kelola perusahaan negara.


Profil Kebun Tulungbuyut

Lokasi

Kebun Tulungbuyut berada di:

  • Kecamatan Negri Agung,
  • Kabupaten Way Kanan,
  • Provinsi Lampung.

Unit ini menjadi salah satu kebun terbesar di lingkungan PTPN I (Persero) Regional 7. Bahkan manajemen perusahaan menyebut Kebun Tulungbuyut sebagai “kapal induk” produksi Regional 7 karena luas areal dan kontribusi produksinya yang sangat besar.

 Luas Areal

Kebun Tulungbuyut memiliki luas areal

  • ± 5.786,5 hektare.

Sebagian besar areal digunakan untuk:

  • Tanaman karet,
  • fasilitas produksi,
  • dan pengembangan komoditas baru seperti tebu. 

Komoditas Utama

Karet

Karet merupakan komoditas utama Kebun Tulungbuyut sejak masa kolonial hingga sekarang.

Produk yang dihasilkan:

  • RSS (Ribbed Smoked Sheet),
  • Crumb Rubber,
  • SIR 20 (Standard Indonesian Rubber).

Kebun ini memiliki pabrik pengolahan karet sendiri yang masih aktif beroperasi hingga sekarang.

  

Tebu (untuk memutus mata rantai jamur akar)

Pada tahun 2015, perusahaan mulai melakukan uji coba penanaman tebu sebagai bagian diversifikasi usaha.

Hasil percobaan menunjukkan:

  • rendemen gula mencapai 8–9 persen,
  • produktivitas 70–100 ton per hektare,
  • sehingga dinilai cukup prospektif untuk pengembangan masa depan. 

Sistem Operasional

Kebun Tulungbuyut dikelola dengan sistem afdeling (divisi kebun) yang menangani:

  • budidaya tanaman,
  • pemeliharaan,
  • panen,
  • pengolahan hasil,
  • hingga distribusi produksi.

Fasilitas utama:

  • kantor sentral,
  • pabrik pengolahan karet,
  • gudang produksi,
  • perumahan karyawan,
  • sarana pendidikan dan ibadah,
  • klinik kesehatan,
  • jalan operasional kebun. 

Visi dan Misi

Visi

Menjadi perusahaan agribisnis dan agroindustri yang unggul, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Misi

  1. Mengelola perkebunan secara profesional.
  2. Menghasilkan produk berkualitas tinggi.
  3. Memberikan kontribusi ekonomi kepada negara.
  4. Menjaga kelestarian lingkungan.
  5. Meningkatkan kesejahteraan karyawan dan masyarakat sekitar. 

Peran Sosial dan Ekonomi

Kebun Tulungbuyut memiliki peran besar dalam:

  • membuka lapangan pekerjaan,
  • mendorong ekonomi masyarakat Way Kanan,
  • pembangunan infrastruktur desa,
  • kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat sekitar.

Perusahaan juga aktif dalam:

  • bantuan sosial,
  • santunan anak yatim,
  • program lingkungan,
  • pembinaan masyarakat sekitar kebun. 

Prestasi dan Penghargaan

Kebun Tulungbuyut termasuk salah satu unit berprestasi di lingkungan Regional 7:

  • memperoleh penghargaan kinerja pengolahan karet,
  • masuk nominasi produksi terbaik,
  • serta dikenal memiliki pabrik karet tua yang tetap produktif dan efisien. 

Kesimpulan

Kebun Tulungbuyut merupakan salah satu aset penting dalam sejarah perkebunan negara Indonesia. Berawal dari perkebunan kolonial Belanda tahun 1930, kemudian dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia, bergabung ke dalam PTPN VII tahun 1996, hingga kini menjadi bagian dari PTPN I Regional 7 sejak 2023.

Dengan kekuatan utama pada komoditas karet serta pengembangan tebu modern, Kebun Tulungbuyut terus berkembang sebagai pusat agribisnis strategis di Provinsi Lampung dan Sumatra bagian selatan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini