PTPN I ( Persero) Regional 7 Kebun Tulungbuyut
PT Perkebunan Nusantara I (Persero)
melalui unit operasionalnya, Regional 7 Kebun Tulungbuyut, merupakan
salah satu perkebunan karet terbesar di wilayah Lampung yang memiliki sejarah
panjang sejak masa kolonial Belanda hingga era transformasi BUMN perkebunan
modern saat ini.
Latar
Belakang Berdirinya
Kebun Tulungbuyut berada di Kampung
Kalipapan, Kecamatan Negri Agung, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung.
Kawasan ini sejak awal dikenal sebagai daerah potensial untuk pengembangan
tanaman perkebunan, khususnya karet.
Perkebunan dan pabrik pengolahan karet
Tulungbuyut pertama kali dibangun sekitar tahun 1930 oleh
perusahaan perkebunan milik pemerintah kolonial Belanda. Pada masa itu, wilayah
Lampung menjadi salah satu sentra pengembangan karet di Sumatra bagian selatan
karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung budidaya tanaman karet.
dengan luas kebun ± 5.786,5 hektare.
Pabrik pengolahan yang dibangun saat
itu menggunakan sistem pengasapan lembaran karet (Ribbed Smoked Sheet/RSS)
dan sebagian bangunannya masih dipertahankan hingga sekarang sebagai
peninggalan sejarah industri perkebunan kolonial.
Masa
Nasionalisasi Perusahaan Belanda
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah
melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan asing milik Belanda pada
tahun 1957–1958. Seluruh aset perkebunan Belanda, termasuk
Kebun Tulungbuyut, diambil alih oleh negara dan dikelola oleh perusahaan
perkebunan negara.
Kebijakan nasionalisasi ini menjadi
tonggak penting lahirnya perusahaan-perusahaan perkebunan milik negara yang
kemudian berkembang menjadi kelompok PTP (Perusahaan Terbatas Perkebunan).
Pada periode berikutnya, pengelolaan
perkebunan mengalami beberapa kali restrukturisasi organisasi:
- dari PPN
(Perusahaan Perkebunan Negara),
- menjadi
PNP (Perusahaan Negara Perkebunan),
- kemudian berubah menjadi PT Perkebunan Persero.
Transformasi ini dilakukan pemerintah untuk meningkatkan efisiensi dan profesionalisme pengelolaan perkebunan negara.
Pembentukan PTPN VII
Pada tahun 1996,
pemerintah melakukan konsolidasi besar-besaran terhadap BUMN perkebunan di
Indonesia. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1996, beberapa
perusahaan perkebunan negara di wilayah Sumatra bagian selatan digabung
menjadi:
PT Perkebunan Nusantara VII
Perusahaan ini resmi berdiri melalui
Akta Notaris Harun Kamil, S.H. Nomor 40 tanggal 11 Maret 1996.
PTPN VII merupakan hasil penggabungan:
- PT Perkebunan X,
- PT Perkebunan XXXI,
- proyek pengembangan PT Perkebunan
XI,
- serta beberapa unit
perkebunan lainnya di Lampung, Sumatera Selatan, dan Bengkulu.
Sejak
saat itu, Kebun Tulungbuyut menjadi salah satu unit usaha utama PTPN VII di
Provinsi Lampung.
Perubahan
Menjadi PTPN I (Persero) Regional 7
Dalam program transformasi Holding
Perkebunan Nusantara yang dipimpin oleh PTPN III (Persero), dilakukan integrasi
seluruh PTPN ke dalam sistem regional.
Efektif sejak 1 Desember 2023,
PTPN VII resmi bergabung ke dalam struktur baru:
PT Perkebunan Nusantara I (Persero) Regional 7
Regional
7 membawahi wilayah operasional:
- Provinsi Lampung,
- Sumatera Selatan,
- Bengkulu.
Transformasi
ini bertujuan:
- meningkatkan efisiensi
perusahaan,
- memperkuat daya saing,
- mempercepat modernisasi
agribisnis,
- serta memperbaiki tata
kelola perusahaan negara.

Profil Kebun Tulungbuyut
Lokasi
Kebun Tulungbuyut berada di:
- Kecamatan Negri Agung,
- Kabupaten Way Kanan,
- Provinsi Lampung.
Unit ini menjadi salah satu kebun
terbesar di lingkungan PTPN I (Persero) Regional 7. Bahkan manajemen perusahaan
menyebut Kebun Tulungbuyut sebagai “kapal induk” produksi Regional 7 karena
luas areal dan kontribusi produksinya yang sangat besar.
Luas Areal
Kebun Tulungbuyut memiliki luas areal
- ± 5.786,5
hektare.
Sebagian besar areal digunakan untuk:
- Tanaman karet,
- fasilitas produksi,
- dan pengembangan komoditas baru seperti tebu.
Komoditas Utama
Karet
Karet merupakan komoditas utama Kebun Tulungbuyut sejak
masa kolonial hingga sekarang.
Produk yang dihasilkan:
- RSS (Ribbed Smoked Sheet),
- Crumb
Rubber,
- SIR 20 (Standard Indonesian Rubber).
Kebun ini memiliki pabrik pengolahan
karet sendiri yang masih aktif beroperasi hingga sekarang.
Tebu (untuk memutus mata rantai jamur
akar)
Pada tahun 2015, perusahaan mulai melakukan uji coba
penanaman tebu sebagai bagian diversifikasi usaha.
Hasil percobaan menunjukkan:
- rendemen gula mencapai 8–9 persen,
- produktivitas 70–100 ton per
hektare,
- sehingga dinilai cukup prospektif untuk pengembangan masa depan.
Sistem Operasional
Kebun Tulungbuyut dikelola dengan sistem afdeling (divisi
kebun) yang menangani:
- budidaya tanaman,
- pemeliharaan,
- panen,
- pengolahan hasil,
- hingga distribusi produksi.
Fasilitas utama:
- kantor sentral,
- pabrik pengolahan karet,
- gudang produksi,
- perumahan karyawan,
- sarana pendidikan dan ibadah,
- klinik kesehatan,
- jalan operasional kebun.
Visi dan Misi
Visi
Menjadi
perusahaan agribisnis dan agroindustri yang unggul, berdaya saing, dan
berkelanjutan.
Misi
- Mengelola perkebunan
secara profesional.
- Menghasilkan produk
berkualitas tinggi.
- Memberikan kontribusi
ekonomi kepada negara.
- Menjaga kelestarian
lingkungan.
- Meningkatkan kesejahteraan karyawan dan masyarakat sekitar.
Peran
Sosial dan Ekonomi
Kebun
Tulungbuyut memiliki peran besar dalam:
- membuka lapangan
pekerjaan,
- mendorong ekonomi
masyarakat Way Kanan,
- pembangunan infrastruktur
desa,
- kegiatan sosial dan
keagamaan masyarakat sekitar.
Perusahaan
juga aktif dalam:
- bantuan sosial,
- santunan anak yatim,
- program lingkungan,
- pembinaan masyarakat sekitar kebun.
Prestasi dan Penghargaan
Kebun Tulungbuyut termasuk salah satu unit berprestasi di
lingkungan Regional 7:
- memperoleh penghargaan kinerja
pengolahan karet,
- masuk nominasi produksi terbaik,
- serta dikenal memiliki pabrik karet tua yang tetap produktif dan efisien.
Kesimpulan
Kebun Tulungbuyut merupakan salah satu
aset penting dalam sejarah perkebunan negara Indonesia. Berawal dari perkebunan
kolonial Belanda tahun 1930, kemudian dinasionalisasi oleh pemerintah
Indonesia, bergabung ke dalam PTPN VII tahun 1996, hingga kini menjadi bagian
dari PTPN I Regional 7 sejak 2023.
Dengan kekuatan utama
pada komoditas karet serta pengembangan tebu modern, Kebun Tulungbuyut terus
berkembang sebagai pusat agribisnis strategis di Provinsi Lampung dan Sumatra
bagian selatan.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar